Home » Archives for Juni 2016
Sejarah Penamaan Bima
Oleh: Bung Rulan
Dahulu kala masyarakat Bima
hidup tentram, aman dan berkecukupan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mereka
bercocok tanam di sawah dan diladang, mereka menanam berbagai biji-bijian
sebagai persediaan. Selain itu masyarakat yang tinggal di pesisir pantai
memilih untuk menjadi nelayan atau penangkap ikan, kemudian di jual di pasar
atau ditukarkan dengan barang lainnya sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Corak kehidupan keseharian sangat di pengaruhi oleh ajaran yang mereka anut,
seperti agama hindu dan budha. Kedua agama ini tidak diketahui kapan masuk di
bima, catatan-catatan sejarah tidak menjelaskan tepatnya sejak kapan. Akan
tetapi agama tersebut telah lama menjadi
kepercayaan masyarakat sebelum Islam masuk menjadi kebudayaan besar.
Bima adalah nama
teritorial wilayah yang di huni oleh masyarakat Mbojo yang tinggal di
pegunungan dan pesisir pantai. Nama Bima sendiri di percaya datangnya dari
seorang putra kerajaan jawa yang datang kebima, ia berlayar dari jawa hingga
berlabuh di pulau satonda. Cerita tentang sejarah Bima tidak banyak di temukan
dalam bentuk manuskrip atau tulisan, karena masyarakat kita mengenal sejarah Bima
berdasarkan pada hasil cerita (Mpama)
yang diceritakan secara terus menerus oleh nenek moyang dan diwariskan kepada
orang tua kita. Dari cerita tersebut sebagian besar dari sejarahwan Bima menyakini
cerita tersebut sebagai sejarah Bima yang asli.
Cerita tersebut terus
diwariskan dan diceritakan secara terus menerus kepada generasi selanjutnya,
sehingga cikal bakal lahirnya kerajaan Bima berawal dari Maharaja Pandu Dewata yang
mempunyai lima orang putra yaitu: 1). Darmawangsa; 2). Sang Bima; 3). Sang Arjuna;
4). Sang Kuta; dan 5). Sang Dewa. Salah satu dari kelima putra raja tersebut
berlayar kearah timur dan mendarat tepat di sebuah pulau yang diberi nama pulau
Satonda.
Dari cerita (Mpama) yang penulis dapatkan sewaktu
kecil di ceritakan oleh seorang guru. Setelah Sang Bima sampai dipulau Satonda ditengah
perjalanan, tepatnya disebuah sungai Sang Bima bertemu dengan Putri Ular
penunggu sungai. Kemudian dari pertemuan pertama itu akhirnya mereka menikah
dan memiliki keturunan dari jenis bangsa Jin. Garis keturunan itu di kuatkan
oleh beberapa catatan nama-nama keturunan Sang Bima dari jin yang ada di ASI
(tempat kediaman raja sekarang sudah di alih fungsikan menjadi Museum). Selain Sang
Bima bertemu dengan Putri Ular di Satonda terdapat sebuah pohon besar nan
rindang dengan cabang-cabangnya yang banyak, namun pohon tersebut tidak
memiliki daun. Konon Masyarakat setempat memberikan nama pohon dengan nama
pohon batu, disebabkan hanya terdapat gantungan batu yang dililitkan lalu di
ikat di cabang dan ranting pohon. Masyarakat mempercayai bahwa batu tersebut
sebagai sebuah simbol pengharapan kepada yang gaib bahwa semua permintaannya
akan di kabulkan.
Masyarakat Bima yang
terdiri dari beberapa wilayah kecil di yakini di pimpin oleh seorang raja yang
disebut sebagai Ncuhi, ncuhi sendiri merupakan orang yang berkuasa dan menjadi
pemimpin adat, secara garis besar bahwa di Bima terdapat beberapa
penguasa/ncuhi yang masing-masing membagi wilayahnya kedalam lima ncuhi di
antaranya yaitu; pertama Ncuhi Dara
yang memiliki wilayah kekuasaan di bagian tengah Bima (Mbojo), kedua; Ncuhi Parewa yang berkuasa penuh
pada wilayah Bima bagian selatan, ketiga
Ncuhi Padolo yang memegang kekuasaan pada wilayah bagian barat, keempat Ncuhi banggapupa yang memiliki
otoritas kekuasaan pada wilayah Bima bagian utara dan kelima; Ncuhi Dorowani yang memegang tampuk kekuasaan pada wilayah Bima
bagian timur.
Struktur kekuasaan para
Ncuhi masih sangat sederhana bila dibandingkan dengan struktur kekuasaan di era
modern sekarang. Sehingga para ncuhi punya otoritas kekuasaan yang cukup besar
atas kemaslahatan rakyatnya, para ncuhi punya peran besar terhadap aturan yang
boleh dilakukan atau tidak oleh masyarakat. Walau wilayah Bima terbagi kedalam
lima bagian yang dipimpin para ncuhi, kehidupan meraka aman, damai, tidak ada
perselisihan. Segala macam keputusan yang menyangkut melibatkan teritorial
ncuhi lain, maka akan di adakan musyawarah mufakat untuk menyelesaikan proses
secara bersama. Yang bertindak sebagai pemimpin rapat biasanya di dominasi oleh
Ncuhi Dara, sebab ncuhi dara merupakan pusat Bima yang berada tepat di
tengah-tengah kerajaan Bima.
Tepat setelah sang bima putra Maharaja Pandu
Dewata datang kebimalah yang telah menyatukan kelima para ncuhi, menjadi satu
kerajaan besar yang disebut sebagai Kerajaan Bima. Mulai saat itulah tanah bima
(dana Mbojo) disebut sebagai sebutan”BIMA”
yang berasal dari nama sang bima sebagai raja pertama, kemudian di beri gelar
sebagai Sangaji Mbojo. Artinya nama Bima bukan asli di ciptakan masyarakat
setempat yang memiliki nilai kearifan lokal, melainkan nama putra raja jawa
yang berhasil menjadi raja pertama.
Lalu yang menjadi
pertanyaan selanjutnya adalah dari mana nama “Mbojo” di temukan atau sejak
kapan nama ini dipakai oleh masyarakat bima. Adakah kemungkinan nama mbojo
lebih dahulu ada ketika nama bima resmi menjadi nama kerajaan? Adapun kitab Bo’
Sangaji Kai adalah catatan harian yang ditulis oleh bumi luma rasanae sepanjang
periode 1765-1790. Yakni pada masa awal pemerintahan sultan abdul hamid
Muhammad syah. Catatan harian tersebut tidak menceritakan sejarah bima
melainkan cerita tentang peristiwa, kisah, fakta yang terjadi pada masa
kekuasaan sultan Abdul Hamid.
Syarifuddin Jurdi penulis
buku (Islam Masyarakat Madani dan
Demokrasi Dibima:Membangun Demokrasi Cultural Yang Berbasis Religius) menjelaskan
bahwa kata Mbojo mengandung makna-makna teologis keagamaan dan cultural. Mbojo mengandung
makna teologi, karena kata mbojo sering dikaitkan dengan babuju yang
berorientasi tinggi. Dalam terminologi agama yang tinggi merupakan orientasi
religious, bahkan dalam soal lain istilah Babuju,
Kabuju dan Kandase merupakan istilah religious tentu sebuah interpretasi
atas makna-makna filosofis yang terkandung dalam agama. Istilah mbojo
menurutnya terdapat pesan agama didalamnya, entahlah apakah pesan agama Islam, Hindu
atau Budha. Sedangkan menurut penulis sendiri nama mbojo jauh sebelum islam
datang kebima yang disebar luaskan oleh para datuk dari kerajaan Gowa, Tallo
Dan Luwu. Setelah kerajaan bima resmi memeluk islam sebagai agama kerajaan,
maka bentuk kerajaan pun berubah menjadi kesultanan. Sedangkan menurut penulis Nama
Mbojo sendiri di ambil dari kata Babuju. Babuju sendiri merupakan sebuah
istilah yang menggambarkan hasil panen masyarkat mbojo yang sangat banyak,
penuh hingga tidak mampu di tampung lagi oleh karung.
Kata Babuju di ambil
dari sebuah tempat yang ada di kota bima sekarang tepatnya di pasar tradisional
kampung Sumbawa. Disana terdapat ruas tanah yang datar namun di tengahnya memiliki
benjolan tanah yang menbentuk semacam bukit kecil. Disinilah kata babuju di
ambil lalu di asosiasikan dengan berlimpahnya hasil panen masyarakat setiap
tahun. Dari situ muncul motto bima “Ngaha
Aina Ngoho” arti bebasnya makan dan
jangan tebang kayu di hutan “semacam membakar hutang untuk keperluan tanam
padi, kedelai, kacang dan sebagainya. Dan selanjutnya muncul pula motto bima
lainnya yang menjadi panduan hidup masyarakat dimanapun ia berada. Yaitu Maja Labo Dahu (malu dan takut) mungkin
dikesempatan lain penulis akan membahas khusus tentang motto ini.
Benarkah demikian
adanya bahwa nama Bima berasal dari sang
bima. Sang penakluk para ncuhi yang punya kekuasaan besar di bima. Inilah
mengapa kemudian penulis dan sebagian besar pemuda dan mahasiswa lainnya tidak
mendapatkan catatan sejarah yang komprehensif, tentang sejarah bima yang ditulis
oleh nenek moyang terdahulu. Generasi sekarang mempelajari sejarah bima hanya
mengandalkan cerita (Mpama) dari para tetuah yang sering mengisahkan ketika
sebelum tidur. Kalau menelisik lebih jauh yang dimaksud dengan mpama (cerita)
merupakan sebuah mitologi yang dibesar-besarkan dengan menambahkan ilusi agar
jalannya alur cerita Nampak indah, patriot dan menegangkan. Kita banyak
mengenal mitologi yang datang dari yunani, arab, skandanavia dll.
Nah kalau di atas
hanyalah sebuah mpama belaka dapatkah kita mempercayainya sebagai sebuah
kebenaran sejarah tanpa distorsi dan kontradiksi dimana-mana. Sebab
masing-masing dari orang tua kita memiliki cerita sangat beragam pada cerita
tertentu, sehingga dari desa satu maupun yang lain memiliki perbedaan cerita. Sejarah
bima tentu menjadi cerita yang sangat rumit sekaligus menarik. Sebab mengetahui
sejarah diri akan mengantarkan kita menjadi suatu bangsa yang besar. Sebuah
bangsa yang tidak mengenal jati diri sejarahnya besar kemungkinan akan menajdi
bangsa yang mengulangi kesalahan-kesalahan fatal di masa lampau dan kehilangan
identitas lokal wisdom (kearifan lokal). Untuk itu generasi sekarang dituntut
untuk mencari tahu sejarahnya sendiri dari berbagai literature dan penelitian
yang didukung oleh Mpama para tetuah untuk mendapatkan otensitas sejarah Bima.
Ada yang menarik
menurut penulis dari beberapa nama bima yang di yakini secara bersama,
datangnya dari sang bima sehingga kata bima menjadi nama daerah. Sebagian kecil
masyarakat bima percaya bahwa asal muasal kata bima bukan dari nama sang bima,
melainkan kata bima di ambil dari kalimat Al-Quran yaitu Bismillah, yang
ditafsirkan secara sederhana sebagai sesuatu yang mencerminkan nilai-nilai
kebudayaan islam, adat istiadat yang dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam. Setelah
Islam masuk di Bima dan menjadi agama mayoritas muncul berbagai aliran atau
sekte dalam masyarakat seperti aliran tasawuf dll. Memang terbilang masih
sedikit orang yang mengaitkan kata Bismillahirrahmanirrahim dengan sebutan nama
Bima. Namun satu yang pasti bagi mereka yang percaya bahwa bahwa nama bima di
ambil dari kata bismillah. Sebab sampai sekarang catatan sejarah tentang sang
bima putra raja jawa juga tidak dapat dijadikan sebagai patokan sebab tidak ada
catatan sejarah tertulis yang dijadikan sebagai bukti pembenar.
Masyarakat kita sangat
terbatas untuk mengakses informasi sejarah bima, sebuah sejarah yagn ditutur
dengan sederhana, lugas tentu terdapat nilai kebenaran yang terkandung
didalamnya. Sebab sejarah adalah sebuah fakta yang telah terjadi dan tidak bisa
di ubah sesuka penguasa yang ingin melebih-lebihkan kisah mereka. Bila suatu
penguasa merekonstruksi sejarah perjalanan bima sama persis dengan rezim orde
baru yang telah mengalihkan sejarah Indonesia. Sehingga generasi pelanjut
menjadi buta sejarah. Michel Foucoult mengatakan bahwa sejarah cenderung
diceritakan sesuai keinginan penguasa karena produksi pengetahuan sangat
bergantung kepada siapa yang berkuasa. Untuk itu penulis mengajak kepada
pembaca agar menjadi pembaca yang kritis apalagi tentang sejarang bima.
Walahu Alam Bisowad
Referensi:
Syarifuddin Jurdi,
2007, Islam Masyarakat Madani dan
Demokrasi Dibima:Membangun Demokrasi Cultural Yang Berbasis Religius, CNBS
Henri Chambert, Siti
Maryam dkk, 2010, Iman dan Diplomasi: Serpihan
Sejarah Kerajaan Bima, Jakarta: KPG
Sarangge : Sebagai Ruang Publik

Oleh: bung rulan
direktur komunitas menulis makassar
Kalau kita berbicara tentang demokrasi
maka akan muncul dalam pikiran kita tentang sistem pemerintahan yang
direpresentasikan oleh rakyat banyak. Rakyatlah yang memegang kedaulatan
tertinggi, untuk membangun negara berdasarkan pada keinginan rakyat. Demokrasi
tentunya sebagai suatu sistem politik tidaklah datang secara tiba-tiba, namun
melalui sejarah panjang masyarakat
atena yunani. Pada dasarnya demokrasi merupakan ruang bagi setiap warga negara
untuk menyalurkan aspirasi didepan umum, secara bebas dan berkala tentunya teraktualisasi
kedalam konstitusi sehingga dapat terjamin.
Di Athena ruang publik
terbuka lebar bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat dan masukan, ruang
tersebut dapat di akses oleh siapa saja tampa melihat status kedudukan atau
jabatannya. Seorang filsuf kontemporer (Frankfrut school dijerman) Jurgen
Habermas menyebutnya sebagai demokrasi deliberatif, dimana masyarakat
dilibatkan secara pro-aktif dalam upaya pelibatan pembuatan kebijakan publik
yang menyangkut masalah kenegaraan. Sehingga ruang bagi masyarakat untuk
terlibat dalam mengambil bagian untuk mengatur hidupnya dalam sebuah aturan.
Demokrasi memang tak bisa
dipungkiri ia lahir dari tradisi filsafat yunani, kemudian dikembangkan oleh beberapa
Negara dan menerapkannya sebagai suatu sistem politik. Ketika demokrasi
berjumpa dengan kebudayaan lokal yang kaya akan lokal wisdom, terjadilah proses
internalisasi demokrasi berwajah lokal. Khususnya dibima, kita dapat melacak
perkembangan demokrasi secara kultural di aras masyarakat lokal. Walau mereka
belum mengenal secara pasti apa dan bagaimana bentuk demokrasi akan tetapi
masyarakat bima sudah mempraktekkan demokrasi kedalam bentuk yang sangat
sederhana. Di bima kita mengenal kata sarangge sebagai medium perjumpaan warga
untuk berdiskusi atau hanya sekedar meluangkan waktu untuk menghilangkan rasa
penat dan lelah setelah seharian bekerja di sawah, ladang pertanian dan para
nelayan.
Sarangge punya makna
tersendiri ia bukan hanya sekedar benda material namun ia lebih dari itu
sebagai simbol keluarga. Hampir disetiap rumah masing-masing memiliki sarangge,
biasanya mereka membangunnya di depan rumah atau di tempat umum yang di anggap strategis
sebagai tempat untuk berjaga (pos ronda). Nah disinilah menurut hemat penulis
merasa bahwa masyarakat bima telah mempraktekan demokrasi berabad-abad lamanya,
walau masih dalam konteks yang lebih kecil. Sebab demokrasi meniscayakan adanya
ruang bagi publik untuk saling bertukar pikiran, menentukan pemimpin adat dan
ruang bergumulnya ide.
Sarangge (tempat duduk) yang dimiliki
oleh masyarakt bima pada umumnya.
Sarangge juga merupakan arena bagi masyarakat
bima untuk bertukar pikiran, ibu-ibu mencari kutu, gosip dan semacamnya. Sarangge dapat menjadi
ruang beradu ide, gagasan dan konstruksi ideology bersemi di sarangge. Bahkan
bukan saja hal tersebut dapat tumbuh disarangge, melainkan cintapun dapat
tumbuh berawal disini.
Belajar Menulis Bersama Bung Rulan

Oleh: bung rulan
Direktur Komunitas Menulis
Setiap kali
saya kekampus dan bertemu dengan adik-adik junior, saya selalu di tanyakan
tentang bagaimana menulis yang baik, bagaimana cara menulis sebuah artikel, kak
kalau pada saat menulis lantas kita kekuarangan ide apa yang harus dilakukan.
Dan banyak pertanyaan lainnya yang mereka ajukan, sekilas melihat beberapa
pertanyaan dari mereka saya berkesimpulan bahwa hampir semua pertanyaannya
mengarah pada substansi yang sama. Walau pertanyaannya berbeda tapi secara
pokok ada kesamaan di antaranya, sehingga menurut hemat penulis akan menjawab
secara keseluruhan dalam satu tulisan ini.
Banyak orang
yang merasa bingung dan bertanya bagaimana cara menulis artikel, essai, fiksi
dan sebagainya. Padahal kalau kita sadari, sejak kecil dimasa teman-teman masuk
pertama kali di bangku TK. Salah satu yang diajarkan untuk pertama kali adalah
menulis, menulis huruf abjad dengan menggunakan huruf kapital. Begitupun disaat
kita duduk dibangku SD, SMP, SMA bahkan disaat kuliah anda diharuskan menulis.
Mencatat materi perkuliahan yang ditugaskan oleh dosen. Ketika anda pertama
kali menulis disaat itu juga anda sudah bisa disebut sebagai penulis pemula.
Sudah barang tentu sebagai penulis pemula tulisan anda memang masih amburadul
belum tertata dengan baik, apalagi menyangkut konten tulisan masih jauh dari
kebutuhan pasar [konsumen]. Tetapi anda jangan merasa minder dengan hasil
tulisan sendiri, biar bagaimanapun anda sudah berusaha semaksimal mungkin.
Adapun hasilnya kita serahkan saja kepada pembaca, apa menarik atau tidak
terserah mereka. Tugas kita hanya menulis menyampaikan gagasan lewat tulisan,
setelah itu mau dibaca atau tidak bukan urusan kita.
Ada banyak
tantangan yang akan anda hadapi pada saat anda sudah berkomitmen menulis mulai
dari kesibukan pekerjaan kantor, rasa malas, konflik rumah tangga, pengaruh
lingkungan dsb. Factor tersebut sangat besar mempengaruhi minat seseorang
menuliskan ide-idenya. Tetapi tidak sedikit para penulis professional telah
melewati masa-masa sepeti genting. Sebab tidak ada satupun penulis hebat yang
tidak merasakan fase tantangan yang berat hingga ia ingin memutuskan untuk
berhenti menulis. Namun tekad dan komitmennya teramat besar untuk padam,
sehingga apapun yang menjadi tantangan dan halangan segera mereka singkirkan. Rata-rata
mereka luangkan waktu dalam satu hari untuk menulis minimal dua jam sehari
bahkan terjkadang lebih dari itu. Saya teringat dengan seorang penyanyi pop
legendaries Michael Jakson, untuk menjadi penyanyi sekaligus penari yang hebat.
Ia menyempatkan waktunya setiap hari minimal empat jam untuk berlatih, ia
lakukan secara terus menerus. Tanpa dia sadari gerakan-gerakan ia kuasai betul
sehingga menjadikannya sebagai raja pop dunia dan di gemari oleh orang seluruh
dunia.
Apa yang
bisa kita ambil pelajaran dari cerita Michael Jakson di atas. Bahwa seseorang
yang tekun belajar setia hari, menyisihkan waktu beberapa jam saja untuk focus
pada bidang yang sedang anda garap. Maka dengan keseriusan, dan ketelatenan
anda akan menguasai bidang tersebut dengan baik. Begitu pula menulis yang
dibutuhkan adalah keseriusan dan komitmen untuk terus melakukannya setiap hari,
jangan tergoda dengan lingkungan yang justru membuat anda tidak lagi
melanjutkan kegiatan tulis menulis. Sebab bila dalam beberapa waktu ada tidak
lagi menulis, maka akan terasa kaku dan sulit memulai lagi.
Menulis
akhir-akhir ini sudah menjadi aktifitas banyak orang, bahkan dengan menulis
seseorang mendapatkan royalty besar. Banyak orang yang beranggapan bahwa
menulis bukanlah suatu pekerjaan yang menggiurkan untuk di jadikan sebagai mata
pencaharian. Sebab tidak menghasilkan uang, seperti ketimbang mereka bekerja
menjadi guru negri, pekerja swasta diperusahaan, salesman dsb. Ada benarnya
juga anggapan demikian bila sseorang penulis tidak menulis secara serius,
menulis hanya sekedar menulis saja. Misalnya penulis diary, jadi tulisannya
hanya seputar dunianya saja setiap hari. Memang seperti ini tidaklah menghslkan
uang, melainkan ia hanya ingin mencatat saja rekam jejaknya setiap hari. Namun
ada juga catatan harian yang cukup laris manis bahkan diburu oleh para
penggemar, catatan harian ahmad wahid kemudia dibukukan menjadi pergolakan
pemikiran islam ada juga catatan dari soe hok gie catatan sang demonstran.
Merka menulis catatan harian dengan amat baik, merekam perjalanan bangsa selama
mereka hidup dan akhirnya tulisan mereka dijadikan sebagai pelajaran sejarah
yang cukup berharga untuk bangsa dan Negara. Tentu royalty hasil dari
penerbitan buku dan difilemkan sangatlah besar.
Sudah banyak
contoh yang bisa kita jadikan sebagai pelajaran bahwa penulis professional
lainnya diluar sana, menjadikan menulis sebagai pekerjaan yang menggiurkan.
Bahkan awalnya mereka bukan siapa-siapa akan tetapi setelah mereka menulis ide
dan gagasannya kemudian di sebarkan keberbagai pembaca, maka ia dikenal oleh
orang banyak. Selain itu ia juga beberapa kali di undang untuk menjadi
pembicara dalam seminar dan pelatihan kepenulisan. Ia telah mengelilingi
seluruh Pelosok Indonesia dengan gratis hanya bermodalkan menulis saja, coba
anda bayangkan apakah menulis pekerjaan yang tidak menghasilkan uang. Justru
sebagian orang yang sudah lama menempuh dunia penulisan berpendapat lain dengan
mereka yang acuh tak acuh dengan profesi ini. Salah seorang dosen saya di
kampus sangat familiar bukan hanya saja di kampus akan tetapi di daerah jawa
dan sekitarnya beliau cukup disegani oleh para guru besar. Apa yang menyebabkan
ia menjadi hebat, selain orangnya memang cerdas. Ia juga salah satu dosen yang
sangat produktif menulis, buku-bukunya tersebar diberbagai kampus, bahkah
bukunya menjadi salah satu buku wajib dan menjadi mata kuliah utama di kampus.
Orang banyak mengenalnya karena ia sangat piawai dalam menulis, tema yang ia
garap adalah sosiologi politik islam.
Saya banyak
belajar dari beliau bahkan dalam beberapa kesempatan saya di minta untuk
menulis sebuah essai dan hasilnya menurut pribadi saya sangat mempengaruhi
langkah yang saya ambil selanjutnya. Saya mulai semangat menulis apa saja yang
terlintas dalam pikiran entah itu sebuah cerita joke, materi kuliah dikampus,
hasil seminar dll. Saya mengulas semua yang saya dengar kemudia menulis
semampunya, merangkai kalimat menjadi beberapa paragraf akhirnya menghasilkan
sebuah tulisan.
Terkadang
anda merasa bahwa menulis perlu memperhatikan hal-hal teknis seperti EYD,
struktur, sistematisasi dll. Sebenarnya menjadi penulis pemula, anda tidak
perlu berpikir tentang bagaimana tulisan anda baik dan benar menurut EYD.
Justru dengan hal demikian banyak penulis yang tidak bisa mengembangkan
tulisannya dikarenakan banyak pertimbagan yang ia dapatkan. Terkadang kita akan
merasa minder menulis dengan memperhatikan berbagai amcam tetek bengek aturan
menulis, sehingga pada akhirnya kita terpasung dengan aturan tersebut yang kita
buat sendiri. Anda tidak perlu memperhatikan teknin menulis yang benar, yang
perlu anda lakukan adalah menulis saja apa yang ada dalam pikiran anda. Semakin
sering menulis maka semakin baik tulisan anda, setelah lama menulis bahkans
udah menghasilkan 50 tulisan dalam waktu satu bulan, barulah anda mulai
memperhatikan teknik menulis yang baik agar tulisan anda mendapatkan pembaca
setia. Kalau sudah menjadi penulis, sduah sewajarnya memperhatikan isi tulisan,
kepada siapa sasaran pembaca, media mana yang cocok untuk dikirim, tema apa
yang harus di angkat dll. Teknik ini akan bisa dengan sendirinya kalau semakin
sering anda menulis.


