Photo kegiatan LDKM










Sejarah Penamaan Bima




Oleh: Bung Rulan

Dahulu kala masyarakat Bima hidup tentram, aman dan berkecukupan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mereka bercocok tanam di sawah dan diladang, mereka menanam berbagai biji-bijian sebagai persediaan. Selain itu masyarakat yang tinggal di pesisir pantai memilih untuk menjadi nelayan atau penangkap ikan, kemudian di jual di pasar atau ditukarkan dengan barang lainnya sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Corak kehidupan keseharian sangat di pengaruhi oleh ajaran yang mereka anut, seperti agama hindu dan budha. Kedua agama ini tidak diketahui kapan masuk di bima, catatan-catatan sejarah tidak menjelaskan tepatnya sejak kapan. Akan tetapi agama  tersebut telah lama menjadi kepercayaan masyarakat sebelum Islam masuk menjadi kebudayaan besar.

Bima adalah nama teritorial wilayah yang di huni oleh masyarakat Mbojo yang tinggal di pegunungan dan pesisir pantai. Nama Bima sendiri di percaya datangnya dari seorang putra kerajaan jawa yang datang kebima, ia berlayar dari jawa hingga berlabuh di pulau satonda. Cerita tentang sejarah Bima tidak banyak di temukan dalam bentuk manuskrip atau tulisan, karena masyarakat kita mengenal sejarah Bima berdasarkan pada hasil cerita (Mpama) yang diceritakan secara terus menerus oleh nenek moyang dan diwariskan kepada orang tua kita. Dari cerita tersebut sebagian besar dari sejarahwan Bima menyakini cerita tersebut sebagai sejarah Bima yang asli. 

Cerita tersebut terus diwariskan dan diceritakan secara terus menerus kepada generasi selanjutnya, sehingga cikal bakal lahirnya kerajaan Bima berawal dari Maharaja Pandu Dewata yang mempunyai lima orang putra yaitu: 1). Darmawangsa; 2). Sang Bima; 3). Sang Arjuna; 4). Sang Kuta; dan 5). Sang Dewa. Salah satu dari kelima putra raja tersebut berlayar kearah timur dan mendarat tepat di sebuah pulau yang diberi nama pulau Satonda.

Dari cerita (Mpama) yang penulis dapatkan sewaktu kecil di ceritakan oleh seorang guru. Setelah Sang Bima sampai dipulau Satonda ditengah perjalanan, tepatnya disebuah sungai Sang Bima bertemu dengan Putri Ular penunggu sungai. Kemudian dari pertemuan pertama itu akhirnya mereka menikah dan memiliki keturunan dari jenis bangsa Jin. Garis keturunan itu di kuatkan oleh beberapa catatan nama-nama keturunan Sang Bima dari jin yang ada di ASI (tempat kediaman raja sekarang sudah di alih fungsikan menjadi Museum). Selain Sang Bima bertemu dengan Putri Ular di Satonda terdapat sebuah pohon besar nan rindang dengan cabang-cabangnya yang banyak, namun pohon tersebut tidak memiliki daun. Konon Masyarakat setempat memberikan nama pohon dengan nama pohon batu, disebabkan hanya terdapat gantungan batu yang dililitkan lalu di ikat di cabang dan ranting pohon. Masyarakat mempercayai bahwa batu tersebut sebagai sebuah simbol pengharapan kepada yang gaib bahwa semua permintaannya akan di kabulkan.

Masyarakat Bima yang terdiri dari beberapa wilayah kecil di yakini di pimpin oleh seorang raja yang disebut sebagai Ncuhi, ncuhi sendiri merupakan orang yang berkuasa dan menjadi pemimpin adat, secara garis besar bahwa di Bima terdapat beberapa penguasa/ncuhi yang masing-masing membagi wilayahnya kedalam lima ncuhi di antaranya yaitu; pertama Ncuhi Dara yang memiliki wilayah kekuasaan di bagian tengah Bima (Mbojo), kedua; Ncuhi Parewa yang berkuasa penuh pada wilayah Bima bagian selatan, ketiga Ncuhi Padolo yang memegang kekuasaan pada wilayah bagian barat, keempat Ncuhi banggapupa yang memiliki otoritas kekuasaan pada wilayah Bima bagian utara dan kelima; Ncuhi Dorowani yang memegang tampuk kekuasaan pada wilayah Bima bagian timur.

Struktur kekuasaan para Ncuhi masih sangat sederhana bila dibandingkan dengan struktur kekuasaan di era modern sekarang. Sehingga para ncuhi punya otoritas kekuasaan yang cukup besar atas kemaslahatan rakyatnya, para ncuhi punya peran besar terhadap aturan yang boleh dilakukan atau tidak oleh masyarakat. Walau wilayah Bima terbagi kedalam lima bagian yang dipimpin para ncuhi, kehidupan meraka aman, damai, tidak ada perselisihan. Segala macam keputusan yang menyangkut melibatkan teritorial ncuhi lain, maka akan di adakan musyawarah mufakat untuk menyelesaikan proses secara bersama. Yang bertindak sebagai pemimpin rapat biasanya di dominasi oleh Ncuhi Dara, sebab ncuhi dara merupakan pusat Bima yang berada tepat di tengah-tengah kerajaan Bima.

Tepat setelah sang bima putra Maharaja Pandu Dewata datang kebimalah yang telah menyatukan kelima para ncuhi, menjadi satu kerajaan besar yang disebut sebagai Kerajaan Bima. Mulai saat itulah tanah bima (dana Mbojo) disebut sebagai sebutan”BIMA” yang berasal dari nama sang bima sebagai raja pertama, kemudian di beri gelar sebagai Sangaji Mbojo. Artinya nama Bima bukan asli di ciptakan masyarakat setempat yang memiliki nilai kearifan lokal, melainkan nama putra raja jawa yang berhasil menjadi raja pertama. 

Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah dari mana nama “Mbojo” di temukan atau sejak kapan nama ini dipakai oleh masyarakat bima. Adakah kemungkinan nama mbojo lebih dahulu ada ketika nama bima resmi menjadi nama kerajaan? Adapun kitab Bo’ Sangaji Kai adalah catatan harian yang ditulis oleh bumi luma rasanae sepanjang periode 1765-1790. Yakni pada masa awal pemerintahan sultan abdul hamid Muhammad syah. Catatan harian tersebut tidak menceritakan sejarah bima melainkan cerita tentang peristiwa, kisah, fakta yang terjadi pada masa kekuasaan sultan Abdul Hamid.

Syarifuddin Jurdi penulis buku (Islam Masyarakat Madani dan Demokrasi Dibima:Membangun Demokrasi Cultural Yang Berbasis Religius) menjelaskan bahwa kata Mbojo mengandung makna-makna teologis keagamaan dan cultural. Mbojo mengandung makna teologi, karena kata mbojo sering dikaitkan dengan babuju yang berorientasi tinggi. Dalam terminologi agama yang tinggi merupakan orientasi religious, bahkan dalam soal lain istilah Babuju, Kabuju dan Kandase merupakan istilah religious tentu sebuah interpretasi atas makna-makna filosofis yang terkandung dalam agama. Istilah mbojo menurutnya terdapat pesan agama didalamnya, entahlah apakah pesan agama Islam, Hindu atau Budha. Sedangkan menurut penulis sendiri nama mbojo jauh sebelum islam datang kebima yang disebar luaskan oleh para datuk dari kerajaan Gowa, Tallo Dan Luwu. Setelah kerajaan bima resmi memeluk islam sebagai agama kerajaan, maka bentuk kerajaan pun berubah menjadi kesultanan. Sedangkan menurut penulis Nama Mbojo sendiri di ambil dari kata Babuju. Babuju sendiri merupakan sebuah istilah yang menggambarkan hasil panen masyarkat mbojo yang sangat banyak, penuh hingga tidak mampu di tampung lagi oleh karung. 

Kata Babuju di ambil dari sebuah tempat yang ada di kota bima sekarang tepatnya di pasar tradisional kampung Sumbawa. Disana terdapat ruas tanah yang datar namun di tengahnya memiliki benjolan tanah yang menbentuk semacam bukit kecil. Disinilah kata babuju di ambil lalu di asosiasikan dengan berlimpahnya hasil panen masyarakat setiap tahun. Dari situ muncul motto bima “Ngaha Aina Ngoho” arti bebasnya makan  dan jangan tebang kayu di hutan “semacam membakar hutang untuk keperluan tanam padi, kedelai, kacang dan sebagainya. Dan selanjutnya muncul pula motto bima lainnya yang menjadi panduan hidup masyarakat dimanapun ia berada. Yaitu Maja Labo Dahu (malu dan takut) mungkin dikesempatan lain penulis akan membahas khusus tentang motto ini.

Benarkah demikian adanya bahwa nama Bima berasal  dari sang bima. Sang penakluk para ncuhi yang punya kekuasaan besar di bima. Inilah mengapa kemudian penulis dan sebagian besar pemuda dan mahasiswa lainnya tidak mendapatkan catatan sejarah yang komprehensif, tentang sejarah bima yang ditulis oleh nenek moyang terdahulu. Generasi sekarang mempelajari sejarah bima hanya mengandalkan cerita (Mpama) dari para tetuah yang sering mengisahkan ketika sebelum tidur. Kalau menelisik lebih jauh yang dimaksud dengan mpama (cerita) merupakan sebuah mitologi yang dibesar-besarkan dengan menambahkan ilusi agar jalannya alur cerita Nampak indah, patriot dan menegangkan. Kita banyak mengenal mitologi yang datang dari yunani, arab, skandanavia dll.

Nah kalau di atas hanyalah sebuah mpama belaka dapatkah kita mempercayainya sebagai sebuah kebenaran sejarah tanpa distorsi dan kontradiksi dimana-mana. Sebab masing-masing dari orang tua kita memiliki cerita sangat beragam pada cerita tertentu, sehingga dari desa satu maupun yang lain memiliki perbedaan cerita. Sejarah bima tentu menjadi cerita yang sangat rumit sekaligus menarik. Sebab mengetahui sejarah diri akan mengantarkan kita menjadi suatu bangsa yang besar. Sebuah bangsa yang tidak mengenal jati diri sejarahnya besar kemungkinan akan menajdi bangsa yang mengulangi kesalahan-kesalahan fatal di masa lampau dan kehilangan identitas lokal wisdom (kearifan lokal). Untuk itu generasi sekarang dituntut untuk mencari tahu sejarahnya sendiri dari berbagai literature dan penelitian yang didukung oleh Mpama para tetuah untuk mendapatkan otensitas sejarah Bima. 

Ada yang menarik menurut penulis dari beberapa nama bima yang di yakini secara bersama, datangnya dari sang bima sehingga kata bima menjadi nama daerah. Sebagian kecil masyarakat bima percaya bahwa asal muasal kata bima bukan dari nama sang bima, melainkan kata bima di ambil dari kalimat Al-Quran yaitu Bismillah, yang ditafsirkan secara sederhana sebagai sesuatu yang mencerminkan nilai-nilai kebudayaan islam, adat istiadat yang dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam. Setelah Islam masuk di Bima dan menjadi agama mayoritas muncul berbagai aliran atau sekte dalam masyarakat seperti aliran tasawuf dll. Memang terbilang masih sedikit orang yang mengaitkan kata Bismillahirrahmanirrahim dengan sebutan nama Bima. Namun satu yang pasti bagi mereka yang percaya bahwa bahwa nama bima di ambil dari kata bismillah. Sebab sampai sekarang catatan sejarah tentang sang bima putra raja jawa juga tidak dapat dijadikan sebagai patokan sebab tidak ada catatan sejarah tertulis yang dijadikan sebagai bukti pembenar.

Masyarakat kita sangat terbatas untuk mengakses informasi sejarah bima, sebuah sejarah yagn ditutur dengan sederhana, lugas tentu terdapat nilai kebenaran yang terkandung didalamnya. Sebab sejarah adalah sebuah fakta yang telah terjadi dan tidak bisa di ubah sesuka penguasa yang ingin melebih-lebihkan kisah mereka. Bila suatu penguasa merekonstruksi sejarah perjalanan bima sama persis dengan rezim orde baru yang telah mengalihkan sejarah Indonesia. Sehingga generasi pelanjut menjadi buta sejarah. Michel Foucoult mengatakan bahwa sejarah cenderung diceritakan sesuai keinginan penguasa karena produksi pengetahuan sangat bergantung kepada siapa yang berkuasa. Untuk itu penulis mengajak kepada pembaca agar menjadi pembaca yang kritis apalagi tentang sejarang bima.
Walahu Alam Bisowad

Referensi:
Syarifuddin Jurdi, 2007, Islam Masyarakat Madani dan Demokrasi Dibima:Membangun Demokrasi Cultural Yang Berbasis Religius, CNBS
Henri Chambert, Siti Maryam dkk, 2010, Iman dan Diplomasi: Serpihan Sejarah Kerajaan Bima, Jakarta: KPG


Sarangge : Sebagai Ruang Publik





Oleh: bung rulan
direktur komunitas menulis makassar

Kalau kita berbicara tentang demokrasi maka akan muncul dalam pikiran kita tentang sistem pemerintahan yang direpresentasikan oleh rakyat banyak. Rakyatlah yang memegang kedaulatan tertinggi, untuk membangun negara berdasarkan pada keinginan rakyat. Demokrasi tentunya sebagai suatu sistem politik tidaklah datang secara tiba-tiba, namun melalui sejarah panjang masyarakat atena yunani. Pada dasarnya demokrasi merupakan ruang bagi setiap warga negara untuk menyalurkan aspirasi didepan umum, secara bebas dan berkala tentunya teraktualisasi kedalam konstitusi sehingga dapat terjamin. 

Di Athena ruang publik terbuka lebar bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat dan masukan, ruang tersebut dapat di akses oleh siapa saja tampa melihat status kedudukan atau jabatannya. Seorang filsuf kontemporer (Frankfrut school dijerman) Jurgen Habermas menyebutnya sebagai demokrasi deliberatif, dimana masyarakat dilibatkan secara pro-aktif dalam upaya pelibatan pembuatan kebijakan publik yang menyangkut masalah kenegaraan. Sehingga ruang bagi masyarakat untuk terlibat dalam mengambil bagian untuk mengatur hidupnya dalam sebuah aturan.

Demokrasi memang tak bisa dipungkiri ia lahir dari tradisi filsafat yunani, kemudian dikembangkan oleh beberapa Negara dan menerapkannya sebagai suatu sistem politik. Ketika demokrasi berjumpa dengan kebudayaan lokal yang kaya akan lokal wisdom, terjadilah proses internalisasi demokrasi berwajah lokal. Khususnya dibima, kita dapat melacak perkembangan demokrasi secara kultural di aras masyarakat lokal. Walau mereka belum mengenal secara pasti apa dan bagaimana bentuk demokrasi akan tetapi masyarakat bima sudah mempraktekkan demokrasi kedalam bentuk yang sangat sederhana. Di bima kita mengenal kata sarangge sebagai medium perjumpaan warga untuk berdiskusi atau hanya sekedar meluangkan waktu untuk menghilangkan rasa penat dan lelah setelah seharian bekerja di sawah, ladang pertanian dan para nelayan. 

Sarangge punya makna tersendiri ia bukan hanya sekedar benda material namun ia lebih dari itu sebagai simbol keluarga. Hampir disetiap rumah masing-masing memiliki sarangge, biasanya mereka membangunnya di depan rumah atau  di tempat umum yang di anggap strategis sebagai tempat untuk berjaga (pos ronda). Nah disinilah menurut hemat penulis merasa bahwa masyarakat bima telah mempraktekan demokrasi berabad-abad lamanya, walau masih dalam konteks yang lebih kecil. Sebab demokrasi meniscayakan adanya ruang bagi publik untuk saling bertukar pikiran, menentukan pemimpin adat dan ruang bergumulnya ide.

Sarangge (tempat duduk) yang dimiliki oleh masyarakt bima pada  umumnya. Sarangge juga merupakan arena bagi masyarakat bima untuk bertukar pikiran, ibu-ibu mencari kutu, gosip dan semacamnya. Sarangge dapat menjadi ruang beradu ide, gagasan dan konstruksi ideology bersemi di sarangge. Bahkan bukan saja hal tersebut dapat tumbuh disarangge, melainkan cintapun dapat tumbuh berawal disini.


Belajar Menulis Bersama Bung Rulan




Oleh: bung rulan
Direktur Komunitas Menulis

Setiap kali saya kekampus dan bertemu dengan adik-adik junior, saya selalu di tanyakan tentang bagaimana menulis yang baik, bagaimana cara menulis sebuah artikel, kak kalau pada saat menulis lantas kita kekuarangan ide apa yang harus dilakukan. Dan banyak pertanyaan lainnya yang mereka ajukan, sekilas melihat beberapa pertanyaan dari mereka saya berkesimpulan bahwa hampir semua pertanyaannya mengarah pada substansi yang sama. Walau pertanyaannya berbeda tapi secara pokok ada kesamaan di antaranya, sehingga menurut hemat penulis akan menjawab secara keseluruhan dalam satu tulisan ini.

Banyak orang yang merasa bingung dan bertanya bagaimana cara menulis artikel, essai, fiksi dan sebagainya. Padahal kalau kita sadari, sejak kecil dimasa teman-teman masuk pertama kali di bangku TK. Salah satu yang diajarkan untuk pertama kali adalah menulis, menulis huruf abjad dengan menggunakan huruf kapital. Begitupun disaat kita duduk dibangku SD, SMP, SMA bahkan disaat kuliah anda diharuskan menulis. Mencatat materi perkuliahan yang ditugaskan oleh dosen. Ketika anda pertama kali menulis disaat itu juga anda sudah bisa disebut sebagai penulis pemula. Sudah barang tentu sebagai penulis pemula tulisan anda memang masih amburadul belum tertata dengan baik, apalagi menyangkut konten tulisan masih jauh dari kebutuhan pasar [konsumen]. Tetapi anda jangan merasa minder dengan hasil tulisan sendiri, biar bagaimanapun anda sudah berusaha semaksimal mungkin. Adapun hasilnya kita serahkan saja kepada pembaca, apa menarik atau tidak terserah mereka. Tugas kita hanya menulis menyampaikan gagasan lewat tulisan, setelah itu mau dibaca atau tidak bukan urusan kita.

Ada banyak tantangan yang akan anda hadapi pada saat anda sudah berkomitmen menulis mulai dari kesibukan pekerjaan kantor, rasa malas, konflik rumah tangga, pengaruh lingkungan dsb. Factor tersebut sangat besar mempengaruhi minat seseorang menuliskan ide-idenya. Tetapi tidak sedikit para penulis professional telah melewati masa-masa sepeti genting. Sebab tidak ada satupun penulis hebat yang tidak merasakan fase tantangan yang berat hingga ia ingin memutuskan untuk berhenti menulis. Namun tekad dan komitmennya teramat besar untuk padam, sehingga apapun yang menjadi tantangan dan halangan segera mereka singkirkan. Rata-rata mereka luangkan waktu dalam satu hari untuk menulis minimal dua jam sehari bahkan terjkadang lebih dari itu. Saya teringat dengan seorang penyanyi pop legendaries Michael Jakson, untuk menjadi penyanyi sekaligus penari yang hebat. Ia menyempatkan waktunya setiap hari minimal empat jam untuk berlatih, ia lakukan secara terus menerus. Tanpa dia sadari gerakan-gerakan ia kuasai betul sehingga menjadikannya sebagai raja pop dunia dan di gemari oleh orang seluruh dunia. 

Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari cerita Michael Jakson di atas. Bahwa seseorang yang tekun belajar setia hari, menyisihkan waktu beberapa jam saja untuk focus pada bidang yang sedang anda garap. Maka dengan keseriusan, dan ketelatenan anda akan menguasai bidang tersebut dengan baik. Begitu pula menulis yang dibutuhkan adalah keseriusan dan komitmen untuk terus melakukannya setiap hari, jangan tergoda dengan lingkungan yang justru membuat anda tidak lagi melanjutkan kegiatan tulis menulis. Sebab bila dalam beberapa waktu ada tidak lagi menulis, maka akan terasa kaku dan sulit memulai lagi.

Menulis akhir-akhir ini sudah menjadi aktifitas banyak orang, bahkan dengan menulis seseorang mendapatkan royalty besar. Banyak orang yang beranggapan bahwa menulis bukanlah suatu pekerjaan yang menggiurkan untuk di jadikan sebagai mata pencaharian. Sebab tidak menghasilkan uang, seperti ketimbang mereka bekerja menjadi guru negri, pekerja swasta diperusahaan, salesman dsb. Ada benarnya juga anggapan demikian bila sseorang penulis tidak menulis secara serius, menulis hanya sekedar menulis saja. Misalnya penulis diary, jadi tulisannya hanya seputar dunianya saja setiap hari. Memang seperti ini tidaklah menghslkan uang, melainkan ia hanya ingin mencatat saja rekam jejaknya setiap hari. Namun ada juga catatan harian yang cukup laris manis bahkan diburu oleh para penggemar, catatan harian ahmad wahid kemudia dibukukan menjadi pergolakan pemikiran islam ada juga catatan dari soe hok gie catatan sang demonstran. Merka menulis catatan harian dengan amat baik, merekam perjalanan bangsa selama mereka hidup dan akhirnya tulisan mereka dijadikan sebagai pelajaran sejarah yang cukup berharga untuk bangsa dan Negara. Tentu royalty hasil dari penerbitan buku dan difilemkan sangatlah besar.

Sudah banyak contoh yang bisa kita jadikan sebagai pelajaran bahwa penulis professional lainnya diluar sana, menjadikan menulis sebagai pekerjaan yang menggiurkan. Bahkan awalnya mereka bukan siapa-siapa akan tetapi setelah mereka menulis ide dan gagasannya kemudian di sebarkan keberbagai pembaca, maka ia dikenal oleh orang banyak. Selain itu ia juga beberapa kali di undang untuk menjadi pembicara dalam seminar dan pelatihan kepenulisan. Ia telah mengelilingi seluruh Pelosok Indonesia dengan gratis hanya bermodalkan menulis saja, coba anda bayangkan apakah menulis pekerjaan yang tidak menghasilkan uang. Justru sebagian orang yang sudah lama menempuh dunia penulisan berpendapat lain dengan mereka yang acuh tak acuh dengan profesi ini. Salah seorang dosen saya di kampus sangat familiar bukan hanya saja di kampus akan tetapi di daerah jawa dan sekitarnya beliau cukup disegani oleh para guru besar. Apa yang menyebabkan ia menjadi hebat, selain orangnya memang cerdas. Ia juga salah satu dosen yang sangat produktif menulis, buku-bukunya tersebar diberbagai kampus, bahkah bukunya menjadi salah satu buku wajib dan menjadi mata kuliah utama di kampus. Orang banyak mengenalnya karena ia sangat piawai dalam menulis, tema yang ia garap adalah sosiologi politik islam.

Saya banyak belajar dari beliau bahkan dalam beberapa kesempatan saya di minta untuk menulis sebuah essai dan hasilnya menurut pribadi saya sangat mempengaruhi langkah yang saya ambil selanjutnya. Saya mulai semangat menulis apa saja yang terlintas dalam pikiran entah itu sebuah cerita joke, materi kuliah dikampus, hasil seminar dll. Saya mengulas semua yang saya dengar kemudia menulis semampunya, merangkai kalimat menjadi beberapa paragraf akhirnya menghasilkan sebuah tulisan.

Terkadang anda merasa bahwa menulis perlu memperhatikan hal-hal teknis seperti EYD, struktur, sistematisasi dll. Sebenarnya menjadi penulis pemula, anda tidak perlu berpikir tentang bagaimana tulisan anda baik dan benar menurut EYD. Justru dengan hal demikian banyak penulis yang tidak bisa mengembangkan tulisannya dikarenakan banyak pertimbagan yang ia dapatkan. Terkadang kita akan merasa minder menulis dengan memperhatikan berbagai amcam tetek bengek aturan menulis, sehingga pada akhirnya kita terpasung dengan aturan tersebut yang kita buat sendiri. Anda tidak perlu memperhatikan teknin menulis yang benar, yang perlu anda lakukan adalah menulis saja apa yang ada dalam pikiran anda. Semakin sering menulis maka semakin baik tulisan anda, setelah lama menulis bahkans udah menghasilkan 50 tulisan dalam waktu satu bulan, barulah anda mulai memperhatikan teknik menulis yang baik agar tulisan anda mendapatkan pembaca setia. Kalau sudah menjadi penulis, sduah sewajarnya memperhatikan isi tulisan, kepada siapa sasaran pembaca, media mana yang cocok untuk dikirim, tema apa yang harus di angkat dll. Teknik ini akan bisa dengan sendirinya kalau semakin sering anda menulis.