Oleh: Bung Rulan
Dahulu kala masyarakat Bima
hidup tentram, aman dan berkecukupan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mereka
bercocok tanam di sawah dan diladang, mereka menanam berbagai biji-bijian
sebagai persediaan. Selain itu masyarakat yang tinggal di pesisir pantai
memilih untuk menjadi nelayan atau penangkap ikan, kemudian di jual di pasar
atau ditukarkan dengan barang lainnya sesuai dengan kebutuhan masing-masing.
Corak kehidupan keseharian sangat di pengaruhi oleh ajaran yang mereka anut,
seperti agama hindu dan budha. Kedua agama ini tidak diketahui kapan masuk di
bima, catatan-catatan sejarah tidak menjelaskan tepatnya sejak kapan. Akan
tetapi agama tersebut telah lama menjadi
kepercayaan masyarakat sebelum Islam masuk menjadi kebudayaan besar.
Bima adalah nama
teritorial wilayah yang di huni oleh masyarakat Mbojo yang tinggal di
pegunungan dan pesisir pantai. Nama Bima sendiri di percaya datangnya dari
seorang putra kerajaan jawa yang datang kebima, ia berlayar dari jawa hingga
berlabuh di pulau satonda. Cerita tentang sejarah Bima tidak banyak di temukan
dalam bentuk manuskrip atau tulisan, karena masyarakat kita mengenal sejarah Bima
berdasarkan pada hasil cerita (Mpama)
yang diceritakan secara terus menerus oleh nenek moyang dan diwariskan kepada
orang tua kita. Dari cerita tersebut sebagian besar dari sejarahwan Bima menyakini
cerita tersebut sebagai sejarah Bima yang asli.
Cerita tersebut terus
diwariskan dan diceritakan secara terus menerus kepada generasi selanjutnya,
sehingga cikal bakal lahirnya kerajaan Bima berawal dari Maharaja Pandu Dewata yang
mempunyai lima orang putra yaitu: 1). Darmawangsa; 2). Sang Bima; 3). Sang Arjuna;
4). Sang Kuta; dan 5). Sang Dewa. Salah satu dari kelima putra raja tersebut
berlayar kearah timur dan mendarat tepat di sebuah pulau yang diberi nama pulau
Satonda.
Dari cerita (Mpama) yang penulis dapatkan sewaktu
kecil di ceritakan oleh seorang guru. Setelah Sang Bima sampai dipulau Satonda ditengah
perjalanan, tepatnya disebuah sungai Sang Bima bertemu dengan Putri Ular
penunggu sungai. Kemudian dari pertemuan pertama itu akhirnya mereka menikah
dan memiliki keturunan dari jenis bangsa Jin. Garis keturunan itu di kuatkan
oleh beberapa catatan nama-nama keturunan Sang Bima dari jin yang ada di ASI
(tempat kediaman raja sekarang sudah di alih fungsikan menjadi Museum). Selain Sang
Bima bertemu dengan Putri Ular di Satonda terdapat sebuah pohon besar nan
rindang dengan cabang-cabangnya yang banyak, namun pohon tersebut tidak
memiliki daun. Konon Masyarakat setempat memberikan nama pohon dengan nama
pohon batu, disebabkan hanya terdapat gantungan batu yang dililitkan lalu di
ikat di cabang dan ranting pohon. Masyarakat mempercayai bahwa batu tersebut
sebagai sebuah simbol pengharapan kepada yang gaib bahwa semua permintaannya
akan di kabulkan.
Masyarakat Bima yang
terdiri dari beberapa wilayah kecil di yakini di pimpin oleh seorang raja yang
disebut sebagai Ncuhi, ncuhi sendiri merupakan orang yang berkuasa dan menjadi
pemimpin adat, secara garis besar bahwa di Bima terdapat beberapa
penguasa/ncuhi yang masing-masing membagi wilayahnya kedalam lima ncuhi di
antaranya yaitu; pertama Ncuhi Dara
yang memiliki wilayah kekuasaan di bagian tengah Bima (Mbojo), kedua; Ncuhi Parewa yang berkuasa penuh
pada wilayah Bima bagian selatan, ketiga
Ncuhi Padolo yang memegang kekuasaan pada wilayah bagian barat, keempat Ncuhi banggapupa yang memiliki
otoritas kekuasaan pada wilayah Bima bagian utara dan kelima; Ncuhi Dorowani yang memegang tampuk kekuasaan pada wilayah Bima
bagian timur.
Struktur kekuasaan para
Ncuhi masih sangat sederhana bila dibandingkan dengan struktur kekuasaan di era
modern sekarang. Sehingga para ncuhi punya otoritas kekuasaan yang cukup besar
atas kemaslahatan rakyatnya, para ncuhi punya peran besar terhadap aturan yang
boleh dilakukan atau tidak oleh masyarakat. Walau wilayah Bima terbagi kedalam
lima bagian yang dipimpin para ncuhi, kehidupan meraka aman, damai, tidak ada
perselisihan. Segala macam keputusan yang menyangkut melibatkan teritorial
ncuhi lain, maka akan di adakan musyawarah mufakat untuk menyelesaikan proses
secara bersama. Yang bertindak sebagai pemimpin rapat biasanya di dominasi oleh
Ncuhi Dara, sebab ncuhi dara merupakan pusat Bima yang berada tepat di
tengah-tengah kerajaan Bima.
Tepat setelah sang bima putra Maharaja Pandu
Dewata datang kebimalah yang telah menyatukan kelima para ncuhi, menjadi satu
kerajaan besar yang disebut sebagai Kerajaan Bima. Mulai saat itulah tanah bima
(dana Mbojo) disebut sebagai sebutan”BIMA”
yang berasal dari nama sang bima sebagai raja pertama, kemudian di beri gelar
sebagai Sangaji Mbojo. Artinya nama Bima bukan asli di ciptakan masyarakat
setempat yang memiliki nilai kearifan lokal, melainkan nama putra raja jawa
yang berhasil menjadi raja pertama.
Lalu yang menjadi
pertanyaan selanjutnya adalah dari mana nama “Mbojo” di temukan atau sejak
kapan nama ini dipakai oleh masyarakat bima. Adakah kemungkinan nama mbojo
lebih dahulu ada ketika nama bima resmi menjadi nama kerajaan? Adapun kitab Bo’
Sangaji Kai adalah catatan harian yang ditulis oleh bumi luma rasanae sepanjang
periode 1765-1790. Yakni pada masa awal pemerintahan sultan abdul hamid
Muhammad syah. Catatan harian tersebut tidak menceritakan sejarah bima
melainkan cerita tentang peristiwa, kisah, fakta yang terjadi pada masa
kekuasaan sultan Abdul Hamid.
Syarifuddin Jurdi penulis
buku (Islam Masyarakat Madani dan
Demokrasi Dibima:Membangun Demokrasi Cultural Yang Berbasis Religius) menjelaskan
bahwa kata Mbojo mengandung makna-makna teologis keagamaan dan cultural. Mbojo mengandung
makna teologi, karena kata mbojo sering dikaitkan dengan babuju yang
berorientasi tinggi. Dalam terminologi agama yang tinggi merupakan orientasi
religious, bahkan dalam soal lain istilah Babuju,
Kabuju dan Kandase merupakan istilah religious tentu sebuah interpretasi
atas makna-makna filosofis yang terkandung dalam agama. Istilah mbojo
menurutnya terdapat pesan agama didalamnya, entahlah apakah pesan agama Islam, Hindu
atau Budha. Sedangkan menurut penulis sendiri nama mbojo jauh sebelum islam
datang kebima yang disebar luaskan oleh para datuk dari kerajaan Gowa, Tallo
Dan Luwu. Setelah kerajaan bima resmi memeluk islam sebagai agama kerajaan,
maka bentuk kerajaan pun berubah menjadi kesultanan. Sedangkan menurut penulis Nama
Mbojo sendiri di ambil dari kata Babuju. Babuju sendiri merupakan sebuah
istilah yang menggambarkan hasil panen masyarkat mbojo yang sangat banyak,
penuh hingga tidak mampu di tampung lagi oleh karung.
Kata Babuju di ambil
dari sebuah tempat yang ada di kota bima sekarang tepatnya di pasar tradisional
kampung Sumbawa. Disana terdapat ruas tanah yang datar namun di tengahnya memiliki
benjolan tanah yang menbentuk semacam bukit kecil. Disinilah kata babuju di
ambil lalu di asosiasikan dengan berlimpahnya hasil panen masyarakat setiap
tahun. Dari situ muncul motto bima “Ngaha
Aina Ngoho” arti bebasnya makan dan
jangan tebang kayu di hutan “semacam membakar hutang untuk keperluan tanam
padi, kedelai, kacang dan sebagainya. Dan selanjutnya muncul pula motto bima
lainnya yang menjadi panduan hidup masyarakat dimanapun ia berada. Yaitu Maja Labo Dahu (malu dan takut) mungkin
dikesempatan lain penulis akan membahas khusus tentang motto ini.
Benarkah demikian
adanya bahwa nama Bima berasal dari sang
bima. Sang penakluk para ncuhi yang punya kekuasaan besar di bima. Inilah
mengapa kemudian penulis dan sebagian besar pemuda dan mahasiswa lainnya tidak
mendapatkan catatan sejarah yang komprehensif, tentang sejarah bima yang ditulis
oleh nenek moyang terdahulu. Generasi sekarang mempelajari sejarah bima hanya
mengandalkan cerita (Mpama) dari para tetuah yang sering mengisahkan ketika
sebelum tidur. Kalau menelisik lebih jauh yang dimaksud dengan mpama (cerita)
merupakan sebuah mitologi yang dibesar-besarkan dengan menambahkan ilusi agar
jalannya alur cerita Nampak indah, patriot dan menegangkan. Kita banyak
mengenal mitologi yang datang dari yunani, arab, skandanavia dll.
Nah kalau di atas
hanyalah sebuah mpama belaka dapatkah kita mempercayainya sebagai sebuah
kebenaran sejarah tanpa distorsi dan kontradiksi dimana-mana. Sebab
masing-masing dari orang tua kita memiliki cerita sangat beragam pada cerita
tertentu, sehingga dari desa satu maupun yang lain memiliki perbedaan cerita. Sejarah
bima tentu menjadi cerita yang sangat rumit sekaligus menarik. Sebab mengetahui
sejarah diri akan mengantarkan kita menjadi suatu bangsa yang besar. Sebuah
bangsa yang tidak mengenal jati diri sejarahnya besar kemungkinan akan menajdi
bangsa yang mengulangi kesalahan-kesalahan fatal di masa lampau dan kehilangan
identitas lokal wisdom (kearifan lokal). Untuk itu generasi sekarang dituntut
untuk mencari tahu sejarahnya sendiri dari berbagai literature dan penelitian
yang didukung oleh Mpama para tetuah untuk mendapatkan otensitas sejarah Bima.
Ada yang menarik
menurut penulis dari beberapa nama bima yang di yakini secara bersama,
datangnya dari sang bima sehingga kata bima menjadi nama daerah. Sebagian kecil
masyarakat bima percaya bahwa asal muasal kata bima bukan dari nama sang bima,
melainkan kata bima di ambil dari kalimat Al-Quran yaitu Bismillah, yang
ditafsirkan secara sederhana sebagai sesuatu yang mencerminkan nilai-nilai
kebudayaan islam, adat istiadat yang dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam. Setelah
Islam masuk di Bima dan menjadi agama mayoritas muncul berbagai aliran atau
sekte dalam masyarakat seperti aliran tasawuf dll. Memang terbilang masih
sedikit orang yang mengaitkan kata Bismillahirrahmanirrahim dengan sebutan nama
Bima. Namun satu yang pasti bagi mereka yang percaya bahwa bahwa nama bima di
ambil dari kata bismillah. Sebab sampai sekarang catatan sejarah tentang sang
bima putra raja jawa juga tidak dapat dijadikan sebagai patokan sebab tidak ada
catatan sejarah tertulis yang dijadikan sebagai bukti pembenar.
Masyarakat kita sangat
terbatas untuk mengakses informasi sejarah bima, sebuah sejarah yagn ditutur
dengan sederhana, lugas tentu terdapat nilai kebenaran yang terkandung
didalamnya. Sebab sejarah adalah sebuah fakta yang telah terjadi dan tidak bisa
di ubah sesuka penguasa yang ingin melebih-lebihkan kisah mereka. Bila suatu
penguasa merekonstruksi sejarah perjalanan bima sama persis dengan rezim orde
baru yang telah mengalihkan sejarah Indonesia. Sehingga generasi pelanjut
menjadi buta sejarah. Michel Foucoult mengatakan bahwa sejarah cenderung
diceritakan sesuai keinginan penguasa karena produksi pengetahuan sangat
bergantung kepada siapa yang berkuasa. Untuk itu penulis mengajak kepada
pembaca agar menjadi pembaca yang kritis apalagi tentang sejarang bima.
Walahu Alam Bisowad
Referensi:
Syarifuddin Jurdi,
2007, Islam Masyarakat Madani dan
Demokrasi Dibima:Membangun Demokrasi Cultural Yang Berbasis Religius, CNBS
Henri Chambert, Siti
Maryam dkk, 2010, Iman dan Diplomasi: Serpihan
Sejarah Kerajaan Bima, Jakarta: KPG


Posting Komentar